METODE DIALEKTIS DALAM PENDIDIKAN OLEH SOCRATES

 




Oke di pembahasan kali ini, kita akan membahas lagi tentang pendidikan, tepatnya kita akan membahasnya dalam sudut pandang filsafat itu sendiri. Ya, filsafat, seperti yang teman-teman tahu, filsafat itu merupakan induknya ilmu pengetahuan, dan filsafat sangat erat kaitannya dengan pendidikan.

Seorang guru mendidik murid misalnya, pasti ada sesuatu dalam hatinya untuk menjawab pertanyaan mengapa dia harus mengajar.  

Oke tanpa lama-lama kita mulai dari yang pertama, yaitu Socrates. Siapa sih yang tidak mengenal socrates. Anak filsafat pasti sangat mengenalnya.

Oke, socrates merupakan salah satu filsuf yang sangat terkenal, salah satunya karena tentang gagasan-gagasan pemikirannya mengenai keilmuan. Socrates lahir di tahun 470 SM – 399 SM, dari pasangan Sophonicus dan Phaenarete.  Lewat gagasan dan pemikirannya tentang keilmuan membuat di begitu terkenal, terutama di negara barat. Dan salah satu pemikirannya yang terkenal adalah pemikirannya tentang pendidikan.

Salah satu yang terkenal pemikiran socrates tentang pendidikan yaitu sebuah metode dialektis dalam pendidikan. Dan metode dialektis ini menurutnya menjadi teknik dasar dalam sebuah pendidikan.

Jadi, dalam hal ini mengenai metode dialektis, dimana murid menjadi subyek dalam sebuah pendidikan, bukan sebagai obyek. Para murid diwajibkan untuk berpikir, dengan hal tersebut, murid akan berpikir kritis mengenai suatu hal, kemudian murid akan menguji coba keilmuan tersebut yaitu apa yang mereka pikirkan tersebut, dengan hal tersebut kesalahan dan keberanan nya dalam berpikir akan ia ketahui sendiri, apabila ada kesalahannya dalam pikirannya tersebut lewat uji coba tersebut, kemudian murid akan memperbaiki ilmu pengetahuannya tersebut, sehingga dicapailah sebuah standar keilmuan.

Dalam pernyataan tersebut kita tahu betapa pentingnya menjadikan murid sebagai subyek. Karena dengan ditetapkannya murid sebagai subyek menjadikan murid dapat berpikir secara mandiri, dan akan meningkatkan kekuatan otak tersebut dalam berpikir.

Kemudian dengan ditetapkannya murid sebagai subyek, lalu apa tugas dan fungsi seorang guru? Naah dari sini guru hanya berfungsi sebagai perangsang saja, sebagai perangsang agar murid dapat, misal memulai untuk berpikir atau membuat rangsangan agar murid memliki rasa ingin tahu terhadap suatu hal.

Kemudian seperti yang terjadi saat ini, banyak guru yang memaksakan keilmuan dan gagasannya kepada siswa. Misalnya apabila teman-teman pernah menontonfilm drama dari India yang berjudul “3 Idiots” makan teman-teman bisa menyaksikan kelebihan dan kekuarangan keilmuan yang pertama saya menyebutnya dengan sistem pendidikan diktator, dimana dosen memberikan keilmuan yang baku, para mahasiswa memperoleh ilmu dari buku dan dosen, makan ilmu akan berkembang hanya sebatas standar buku dan apa yang dikatakan oleh dosen. Namun antagonis dari pemikiran tersebut adalah salah satu tokoh dari 3 idiot yang sangat mengedapakan kemandirian dalam berpikir, mahasiwa berpikir secraa bebas. Itulah juga yang dimaksud oleh socrates, pemikirannya tentang pendidikan. Murid ditetapkan sebagai subyek pendidikan, bukan sebagai obyek pendidikan. Murid diharuskan untuk berpikir sendiri mengenai ilmu, mencari tahu, menguji coba keilmuannya, dan kemudian memperbaiki ilmu pengetahuannya agar mencapai standar keilmuannya. Guru tidak boleh memaksakan gagasan atau pemikirannya tentang ilmu pengetahuan, karena bukan itu fungsi dari seorang pendidik, melankan sebagai pengarah, perangsang saja. Guru bukan sebagai subyek.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KATEGORI BUKU SOSIOLOGI